KEHIDUPANKU
Akulah anak
dari keluarga yang memiliki kondisi keuangan yang cukup untuk menghidupi
keluargaku, dan kedua orang tuaku bekerja sebagai wiraswasta. Aku adalah anak
pertama dari tiga bersaudara. Ayah, ibu ,dan adik -adikku adalah orang yang selalu
dekat denganku dan setia menemaniku kemanapun aku pergi. Menyuapiku ketika aku
makan dan memandikanku ketika aku masih kecil.
Saat aku
masuk TK, aku bersekolah di TK Alfalah yang berada di Jakarta. Disana
benar-benar menyenangkan karena banyak teman bermain, guru-guru yang baik dan
mengajar saya dan teman-teman dengan penuh kasih sayang. Kami bermain bersama ,
belajar , dan bergembira bersama.
Saat mau
memasuki SD aku pindah ke kampung tempat dimana ibuku di lahirkan. Aku merasa
sedih dan kecewa mengapa saat aku sudah merasa nyaman aku harus pindah ke
kampung. Walaupun ada alasan tertentu tapi dalam hati kecilku aku merasa sedih.
Namun, dengan seiringnya waktu aku mulai menerima semua kenyataan ini. Dan saat
aku masuk SD, aku merasa duniaku terasa lebih luas lagi dan lebih banyak
teman-teman bermain. Aku mendapat
pelajaran dengan tingkat lebih dan secara perlahan-lahan aku
menyesuaikan. Guru-guru nya pun mengajar aku dan teman-teman dengan penuh
semangat dan pantang menyerah. Ketika aku bersekolah SD alhamdulillah aku
selalu mendapatkan juara, sehingga ayah dan ibu bangga terhadapku. Mereka
selalu memberi hadiah dan menuruti apa yang aku inginkan ketika aku mendapatkan
juara kelas.
Setelah
beberapa tahun kemudian, lalu aku meneruskan masuk SMP. Aku bertambah dewasa
dan mulai mengenal keadaan di sekitar. Menurutku guru-guru dan anak-anaknya pun
disiplin , senang bergurau dan penuh dengan semangat. Seiring waktu berjalan
aku menikmati masa-masa SMP hingga akhirnya aku telah lulus dari SMP dan akan
melanjutkan ke SMA.
Pagi ini sangat cerah, terlihat dari sinar
matahari yang bersinar begitu indahnya menyorot bumi. Aku beraktivitas seperti
biasanya, bersiap-siap untuk berangkat ke Sekolah baruku yaitu sekolah SMA. Kulihat diriku
sendiri dicermin, terlihat dibayangan itu terdapat seorang gadis muda yang
menggunakan kerudung putih
dan mengenakan seragam putih abu-abu. Dia terlihat cantik.
Aku melangkahkan kakiku
menuju sekolah, entah kenapa hari ini aku begitu bersemangat untuk pergi
kesekolah. Disetiap langkah kakiku disertai juga dengan guratan senyum
dibibirku. Sesampainya di sekolah tiba-tiba aku bertemu dengan seorang bapak-bapak yang sedang menyapu
halaman sekolah. Kusapa dia, dan dia membalas. Kulihat kulitnya yang semakin
keriput, tubuhnya yang semakin rapuh, tetapi entah kenapa ada satu hal yang membuatku
kagum melihatnya. Senyumnya yang begitu indah dan begitu ikhlas. Seperti tidak
ada cobaan yang berani untuk menghampirinya.
Bel sekolah pun
berbunyi tanda telah masuk waktu istirahat. Aku membuka tasku dan mengambil
sebuah kotak berwarna coklat. Kubuka kotak itu dan melihat ada makanan favorit
ku, yaitu nasi goreng. Ibuku selalu membuatkan dengan penuh kasih sayang dan
belas kasih. Iya dia sering membuatkannya untukku,dahulu.
Ibuku tidak pernah bosan membuatkan makanan untuk bekal ke sekolah.
Pulang sekolahpun tiba,
ayahku sudah berada didepan sekolah untuk menjemputku. Kusapa ayahku dengan
senyuman, dia membalas dengan senyum dan melambaikan tangan. Aku naik ke motor
yang ayahku kendarai. Di
sepanjang
jalan aku bercerita tentang sekolahku, dimulai dari temanku yang mempunyai
novel baru dan tentang pelajaran. Aku berkata kepada ayahku “Ayah, aku ini
tidak seperti anak gadis lainnya. Aku ini berbeda. Apakah ayah tidak malu
mempunyai anak seperti aku?” kataku. “Sayang.. kamu adalah malaikat kecilku.
Kamu adalah anugerah yang telah tuhan berikan kepada ayah. Ayah rela
mengorbankan setetes darah untuk satu senyuman mu, ayah rela mengorbankan hati
untuk satu canda tawa mu, ayah rela mengerbonkan nyawa hanya untuk
kebahagianmu” balas
ayah. “Ayah, tapi aku ini berbeda. Aku sangat berbeda” aku membalas. “Bukan
berbeda, malaikat kecilku. Tetapi kamu itu istimewa” balas ayah.
Di
sepanjang jalan aku dan ayah mengobrol, dan seketika aku melihat toko aksesoris.Lalu
Kami berhenti disatu toko aksesoris. Aku sangat
senang jika ayah mengajaku ke tempat ini, aku bisa membeli banyak barang yang
aku suka. “Ayah.. aku ingin buku ini. Boleh?” aku bertanya. “Tentu saja boleh”
balas ayah dengan senyumnya. Lalu aku berkeliling dan melihat satu barang yang
membuatku terpesona untuk beberapa saat. Benda itu adalah sebuah kalung
liontin, berbentuk hati. Aku sangat menyukainya. Tetapi setelah kulihat harga
liontin itu, aku merasa patah hati. Harganya
menurutku
itu mahal.
Tapi aku memberanikan
diri untuk bertanya kepada ayah, apakah aku boleh membeli liontin itu.
“Ayah....” aku memanggilnya dengan nada rendah. “Ada apa? sudah melihat-lihat
barangnya?” balasnya dengan penuh nada lembut.”Emm.. ayah. Aku melihat liontin
ini, sangat bagus sekali” kataku sambil menunjukan kalung liontin itu kepada
ayah. “Iya kalung itu sangat cantik sama seperti kamu. Kamu menginginkannya?”
balas ayah. “Emm.. sebenarnya iya. Tapi harga nya mahal” aku membalas
sambil menundukan kepala. “Tidak apa-apa sayang. Ayah akan membelikannya untuk
kamu” balasnya sambil
tersenyum kepadaku. “Yatuhan, aku sangat bersyukur engkau mengirimkan sosok
ayah seperti dirinya. Tubuhnya sekuat baja namun hati nya selembut salju.
Setelah
mendapatkan liontin dari ayah, akhirnya kita beranjak untuk pulang ke rumah. Di
sepanjang jalan aku berterimakasih kepada ayah, karena ayah telah mengabulkan
permintaanku. Ayah selalu menuruti apa yang aku inginkan. Ayah tidak pernah
melarangku untuk membeli sesuatu, kecuali barang yang tidak ada manfaatnya
untukku ayah selalu melarangnya karena katanya “apabila kamu membeli barang
yang tidak ada manfaatnya untukmu sama saja kamu telah menghamburkan uang.
Karena mencari uang itu sulit.” kata ayah. Kemudian aku hanya bisa diam dan
tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun.
Sesampainya
di rumah, aku langsung menemui ibuku dan berbicara bahwa aku telah di belikan
oleh ayah sebuah liontin yang sangat indah dan cantik. Ibuku merasa bahagia
karena bisa melihat anaknya yang cantik itu tersenyum dengan penuh kebahagiaan.
Karena baginya kebahagiaan anak nya lebih penting dari apapun. Ayah dan ibu
tidak ingin melihat anaknya merasa sedih. Menurutku itu adalah hal yang paling
aku banggakan karena aku bisa memiliki ayah dan ibu yang baik seperti mereka. Mungkin
di luaran sana masih banyak anak yang kurang akan kasih sayang dan perhatian
dari orang tuanya. Maka dari itu aku selalu bersyukur akan semua yang telah
diberikan oleh Allah swt.
Ayahku yang
selama ini bekerja keras banting tulang tanpa mengenal lelah dan letih demi
mencukupi kebutuhan istri dan anak - anaknya. Ayahku tak pernah mengeluh kepada
siapapun, keringat nya yang bercucuran itu tidak pernah dia beritahukan kepada
siapapun bahwa dia sedang lelah. Walaupun terkadang ayahku suka memaharahiku
jika aku berbuat salah, namun apa yang ayah lakukan itulah yang terbaik
untukku. Nasihat dan pepatahnya selalu aku ingat dan akan selalu aku kenang
hingga akhir waktu.
Ibuku yang
selalu memberikan semangat kepada ayahku agar ayah selalu semangat menjalani
kehidupan ini. Ibuku juga yang selalu memberikan perhatian dan kasih sayang nya
terhadap ayah dan anak - anaknya. Walaupun ibu sedang sakit dia tetap ada untuk
suami dan anak - anaknya. Dia selalu memberikan perhatian tanpa mengenal lelah
dan letih untuk keluarganya. Ibu yang selalu bangun pagi - pagi hanya untuk
membuatkan makanan untuk sarapan. Namun, aku sering membuat hati ibu dan ayahku
sedih karena aku belum bisa menjadi anak yang baik untuk mereka. Aku belum bisa
membuktikan bahwa aku menjadi anak yang berbakti dan patuh terhadap mereka. Aku
masih suka mengecewakan mereka, sering membuat mereka khawatir terhadapku.
Seharusnya aku bersikap dewasa karena
aku anak pertama dan aku harus memberikan contoh yang baik untuk adik - adikku.
Namun sepertinya aku belum bisa menjadi kakak yang terbaik untuk adik - adikku.
Di dalam
lubuk hatiku yang paling dalam, sebenarnya aku ingin membuktikan kepada ayah
dan ibuku bahwa aku ingin menjadi anak yang baik,berbakti dan patuh terhadap
ayah dan ibuku. Dan akan menjadi kakak yang terbaik untuk adik-adikku. Dan
terlintas dalam pikiranku, saat ini aku harus menjadi anak yang berbakti dan
berguna bagi keluargaku, terutama untuk ayah dan ibuku. Aku tidak boleh
menyia-nyiakan waktu mudaku. Aku harus bisa menjadi anak yang pandai , sukses
dan berguna untuk semua orang.
Aku ingin
mengucapakan beribu ucapan terimakasih untuk ayah dan ibuku. Karena mereka lah
yang telah membesarkan dan merawatku hingga sebesar ini. Dan selalu sabar
menghadapi sikap anakmu yang seperti ini. ”Berikan
aku sedikit waktu lagi ya Tuhan, aku ingin menghabiskan waktuku untuk
membahagiakannya. Aku hanya meminta sedikit waktu saja, dari semua waktu yang
engkau miliki”.
Bagus nihh π
BalasHapusMenarik alur cerita nyaππ
BalasHapusMenarik nih
BalasHapusSukak deh ceritanyaa
BalasHapusBaguss caa ceritanya ππ
BalasHapusSuka ceritanya π
BalasHapusUunchhh
BalasHapusMantap lanjutkan sangat suka dengan ceritanya
BalasHapusNice alur ceritanya menarik
BalasHapusMantul nihh π
BalasHapusTerbaik ca π
BalasHapusNiceπ lanjutan karya berikutnya πͺ
BalasHapusKeren, Ditunggu karya berikutnya π
BalasHapusLanjutkan sal:)
BalasHapusKereen caaππ
BalasHapusDi tunggu postingan berikutnya
BalasHapusππππ
BalasHapusBagus ca, Lanjutkan:)
BalasHapusπππ
BalasHapusBagus ca,, teruskan berkarya
BalasHapusBagus ca, lanjutkan
BalasHapus