Senin, 25 Februari 2019

CERPEN


KEHIDUPANKU


Akulah anak dari keluarga yang memiliki kondisi keuangan yang cukup untuk menghidupi keluargaku, dan kedua orang tuaku bekerja sebagai wiraswasta. Aku adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Ayah, ibu ,dan adik -adikku adalah orang yang selalu dekat denganku dan setia menemaniku kemanapun aku pergi. Menyuapiku ketika aku makan dan memandikanku ketika aku masih kecil.
Saat aku masuk TK, aku bersekolah di TK Alfalah yang berada di Jakarta. Disana benar-benar menyenangkan karena banyak teman bermain, guru-guru yang baik dan mengajar saya dan teman-teman dengan penuh kasih sayang. Kami bermain bersama , belajar , dan bergembira bersama.
Saat mau memasuki SD aku pindah ke kampung tempat dimana ibuku di lahirkan. Aku merasa sedih dan kecewa mengapa saat aku sudah merasa nyaman aku harus pindah ke kampung. Walaupun ada alasan tertentu tapi dalam hati kecilku aku merasa sedih. Namun, dengan seiringnya waktu aku mulai menerima semua kenyataan ini. Dan saat aku masuk SD, aku merasa duniaku terasa lebih luas lagi dan lebih banyak teman-teman bermain. Aku mendapat  pelajaran dengan tingkat lebih dan secara perlahan-lahan aku menyesuaikan. Guru-guru nya pun mengajar aku dan teman-teman dengan penuh semangat dan pantang menyerah. Ketika aku bersekolah SD alhamdulillah aku selalu mendapatkan juara, sehingga ayah dan ibu bangga terhadapku. Mereka selalu memberi hadiah dan menuruti apa yang aku inginkan ketika aku mendapatkan juara kelas.
Setelah beberapa tahun kemudian, lalu aku meneruskan masuk SMP. Aku bertambah dewasa dan mulai mengenal keadaan di sekitar. Menurutku guru-guru dan anak-anaknya pun disiplin , senang bergurau dan penuh dengan semangat. Seiring waktu berjalan aku menikmati masa-masa SMP hingga akhirnya aku telah lulus dari SMP dan akan melanjutkan ke SMA.
Pagi ini sangat cerah, terlihat dari sinar matahari yang bersinar begitu indahnya menyorot bumi. Aku beraktivitas seperti biasanya, bersiap-siap untuk berangkat ke Sekolah baruku yaitu sekolah SMA. Kulihat diriku sendiri dicermin, terlihat dibayangan itu terdapat seorang gadis muda yang menggunakan kerudung putih dan mengenakan seragam putih abu-abu. Dia terlihat cantik.
Aku melangkahkan kakiku menuju sekolah, entah kenapa hari ini aku begitu bersemangat untuk pergi kesekolah. Disetiap langkah kakiku disertai juga dengan guratan senyum dibibirku. Sesampainya di sekolah tiba-tiba aku bertemu dengan seorang bapak-bapak yang sedang menyapu halaman sekolah. Kusapa dia, dan dia membalas. Kulihat kulitnya yang semakin keriput, tubuhnya yang semakin rapuh, tetapi entah kenapa ada satu hal yang membuatku kagum melihatnya. Senyumnya yang begitu indah dan begitu ikhlas. Seperti tidak ada cobaan yang berani untuk menghampirinya.
Bel sekolah pun berbunyi tanda telah masuk waktu istirahat. Aku membuka tasku dan mengambil sebuah kotak berwarna coklat. Kubuka kotak itu dan melihat ada makanan favorit ku, yaitu nasi goreng. Ibuku selalu membuatkan dengan penuh kasih sayang dan belas kasih. Iya dia sering membuatkannya untukku,dahulu. Ibuku tidak pernah bosan membuatkan makanan untuk bekal ke sekolah.
Pulang sekolahpun tiba, ayahku sudah berada didepan sekolah untuk menjemputku. Kusapa ayahku dengan senyuman, dia membalas dengan senyum dan melambaikan tangan. Aku naik ke motor yang ayahku kendarai. Di sepanjang jalan aku bercerita tentang sekolahku, dimulai dari temanku yang mempunyai novel baru dan tentang pelajaran. Aku berkata kepada ayahku “Ayah, aku ini tidak seperti anak gadis lainnya. Aku ini berbeda. Apakah ayah tidak malu mempunyai anak seperti aku?” kataku. “Sayang.. kamu adalah malaikat kecilku. Kamu adalah anugerah yang telah tuhan berikan kepada ayah. Ayah rela mengorbankan setetes darah untuk satu senyuman mu, ayah rela mengorbankan hati untuk satu canda tawa mu, ayah rela mengerbonkan nyawa hanya untuk kebahagianmu” balas ayah. “Ayah, tapi aku ini berbeda. Aku sangat berbeda” aku membalas. “Bukan berbeda, malaikat kecilku. Tetapi kamu itu istimewa” balas ayah.
            Di sepanjang jalan aku dan ayah mengobrol, dan seketika aku melihat toko aksesoris.Lalu Kami berhenti disatu toko aksesoris. Aku sangat senang jika ayah mengajaku ke tempat ini, aku bisa membeli banyak barang yang aku suka. “Ayah.. aku ingin buku ini. Boleh?” aku bertanya. “Tentu saja boleh” balas ayah dengan senyumnya. Lalu aku berkeliling dan melihat satu barang yang membuatku terpesona untuk beberapa saat. Benda itu adalah sebuah kalung liontin, berbentuk hati. Aku sangat menyukainya. Tetapi setelah kulihat harga liontin itu, aku merasa patah hati. Harganya menurutku itu mahal.
Tapi aku memberanikan diri untuk bertanya kepada ayah, apakah aku boleh membeli liontin itu. “Ayah....” aku memanggilnya dengan nada rendah. “Ada apa? sudah melihat-lihat barangnya?” balasnya dengan penuh nada lembut.”Emm.. ayah. Aku melihat liontin ini, sangat bagus sekali” kataku sambil menunjukan kalung liontin itu kepada ayah. “Iya kalung itu sangat cantik sama seperti kamu. Kamu menginginkannya?” balas ayah. “Emm.. sebenarnya iya. Tapi harga nya mahal” aku membalas sambil menundukan kepala. “Tidak apa-apa sayang. Ayah akan membelikannya untuk kamu” balasnya sambil tersenyum kepadaku. “Yatuhan, aku sangat bersyukur engkau mengirimkan sosok ayah seperti dirinya. Tubuhnya sekuat baja namun hati nya selembut salju.
Setelah mendapatkan liontin dari ayah, akhirnya kita beranjak untuk pulang ke rumah. Di sepanjang jalan aku berterimakasih kepada ayah, karena ayah telah mengabulkan permintaanku. Ayah selalu menuruti apa yang aku inginkan. Ayah tidak pernah melarangku untuk membeli sesuatu, kecuali barang yang tidak ada manfaatnya untukku ayah selalu melarangnya karena katanya “apabila kamu membeli barang yang tidak ada manfaatnya untukmu sama saja kamu telah menghamburkan uang. Karena mencari uang itu sulit.” kata ayah. Kemudian aku hanya bisa diam dan tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun.
Sesampainya di rumah, aku langsung menemui ibuku dan berbicara bahwa aku telah di belikan oleh ayah sebuah liontin yang sangat indah dan cantik. Ibuku merasa bahagia karena bisa melihat anaknya yang cantik itu tersenyum dengan penuh kebahagiaan. Karena baginya kebahagiaan anak nya lebih penting dari apapun. Ayah dan ibu tidak ingin melihat anaknya merasa sedih. Menurutku itu adalah hal yang paling aku banggakan karena aku bisa memiliki ayah dan ibu yang baik seperti mereka. Mungkin di luaran sana masih banyak anak yang kurang akan kasih sayang dan perhatian dari orang tuanya. Maka dari itu aku selalu bersyukur akan semua yang telah diberikan oleh Allah swt.
Ayahku yang selama ini bekerja keras banting tulang tanpa mengenal lelah dan letih demi mencukupi kebutuhan istri dan anak - anaknya. Ayahku tak pernah mengeluh kepada siapapun, keringat nya yang bercucuran itu tidak pernah dia beritahukan kepada siapapun bahwa dia sedang lelah. Walaupun terkadang ayahku suka memaharahiku jika aku berbuat salah, namun apa yang ayah lakukan itulah yang terbaik untukku. Nasihat dan pepatahnya selalu aku ingat dan akan selalu aku kenang hingga akhir waktu.
Ibuku yang selalu memberikan semangat kepada ayahku agar ayah selalu semangat menjalani kehidupan ini. Ibuku juga yang selalu memberikan perhatian dan kasih sayang nya terhadap ayah dan anak - anaknya. Walaupun ibu sedang sakit dia tetap ada untuk suami dan anak - anaknya. Dia selalu memberikan perhatian tanpa mengenal lelah dan letih untuk keluarganya. Ibu yang selalu bangun pagi - pagi hanya untuk membuatkan makanan untuk sarapan. Namun, aku sering membuat hati ibu dan ayahku sedih karena aku belum bisa menjadi anak yang baik untuk mereka. Aku belum bisa membuktikan bahwa aku menjadi anak yang berbakti dan patuh terhadap mereka. Aku masih suka mengecewakan mereka, sering membuat mereka khawatir terhadapku. Seharusnya aku bersikap  dewasa karena aku anak pertama dan aku harus memberikan contoh yang baik untuk adik - adikku. Namun sepertinya aku belum bisa menjadi kakak yang terbaik untuk adik - adikku.
Di dalam lubuk hatiku yang paling dalam, sebenarnya aku ingin membuktikan kepada ayah dan ibuku bahwa aku ingin menjadi anak yang baik,berbakti dan patuh terhadap ayah dan ibuku. Dan akan menjadi kakak yang terbaik untuk adik-adikku. Dan terlintas dalam pikiranku, saat ini aku harus menjadi anak yang berbakti dan berguna bagi keluargaku, terutama untuk ayah dan ibuku. Aku tidak boleh menyia-nyiakan waktu mudaku. Aku harus bisa menjadi anak yang pandai , sukses dan berguna untuk semua orang.
Aku ingin mengucapakan beribu ucapan terimakasih untuk ayah dan ibuku. Karena mereka lah yang telah membesarkan dan merawatku hingga sebesar ini. Dan selalu sabar menghadapi sikap anakmu yang seperti ini. ”Berikan aku sedikit waktu lagi ya Tuhan, aku ingin menghabiskan waktuku untuk membahagiakannya. Aku hanya meminta sedikit waktu saja, dari semua waktu yang engkau miliki”.

21 komentar:

  1. Menarik alur cerita nyaπŸ‘πŸ‘

    BalasHapus
  2. Baguss caa ceritanya πŸ‘πŸ‘

    BalasHapus
  3. Mantap lanjutkan sangat suka dengan ceritanya

    BalasHapus
  4. NiceπŸ˜‡ lanjutan karya berikutnya πŸ’ͺ

    BalasHapus
  5. Keren, Ditunggu karya berikutnya πŸ‘

    BalasHapus
  6. 😍😍😍😍

    BalasHapus

Novel

Prolog Ada sebuah peristiwa dimana aku tahu, semenjak itu terjadi, aku tidak akan lagi menemukan sebuah pagi yang indah Kau pa...